Demonstran Mesir: Kami Tahu Mereka Akan Bunuh Kami

Di Terbitkan Ardana


Demonstran Mesir: Kami Tahu Mereka Akan Bunuh Kami - Jum'at kemarin, hampir disetiap pelosok jalan-jalan di Kairo meletus pertempuran antara demonstran pendukung presiden terguling, Mursi dan pasukan pemerintah.

Puluhan ribu demonstran turun ke jalan dan memadati setiap ruang-ruang di Kairo. Setidaknya, menurut laporan yang diterima, sekitar 50 orang tewas dalam aksi tersebut. Kebanyakan dari korban tersebut berasal dari demonstran pendukung Mursi yang tidak mengenakan perlengkapan senjata apapun kecuali batu dan slogan-slogan menuntut Presiden Mursi dikembalikan ke jabatannya.

Pecahnya pertempuran antara pendukung Mursi melawan pasukan pemerintah dan pendukung kudeta presiden Mursi adalah untuk kali keduanya setelah Rabu lalu pasukan pemerintah melakukan serangan bersenjata terhadap demonstran.

Masjid Al-Fath, sebuah tempat ibadah dekat dengan Ramses Square dan stasiun kereta utama adalah salah satu pusat dari pertempuran tersebut. Bedasarkan laporan yang diterima Huffingtonpost, setidaknya hingga pukul 18.00 waktu setempat, ada 30 sampai 40 korban tewas akibat pertempuran tersebut.

Sebagian demonstran pendukung Mursi membentuk satuan unit pengamanan lokal untuk mencegah pasukan pemerintah dan pendukung kudeta untuk merangsek masuk ke pelosok-pelosok Kairo.

Hari Jum'at yang biasanya dijadikan sebagai hari suci dan istirahat bagi masyarakat kota Kairo telah berubah menjadi "Hari Kemarahan". Hari Jum'at bagi pendukung Mursi merupakan hari pemberontakan dan hari protes ketidakpuasan atas tindakan aparat yang menyerang dua kamp pendukung Mursi hari Rabu lalu.

Setelah sholat Jum'at, sebagian pendukung Mursi yang diikuti oleh ribuan pendukung lainnya dari pelosok kota berkumpul di Masjid Al Fath. Mereka berjalan menuju kota sambil membawa bendera sambil bernyanyi dan berteriak untuk melawan polisi dan Jendral Abdel Fattah Al Sisi yang bulan lalu menendang Mursi dari kursi jabatannya sebagai presiden terpilih.

Sebuah helikopter yang terbang rendah di atas kerumunan masa tersebut juga tak luput dari teriakan para demonstran. Sambil menunjuk, mereka juga meneriaki pasukan yang ada di helikopter tersebut untuk keluar menghadapi mereka.

"Kami tahu mereka akan membunuh kami nanti malam. Dan untuk itu, kami pinta kalian untuk menjadi saksi atas aksi tersebut. Saya disini untuk menunjukan ketidaksukaan saya terhadap aksi kudeta yang telah berlangsung. Kehadiran saya disini juga sebagai aksi duka saya atas pembantaian yang dilakukan oleh rezim pemerintah hari Rabu lalu," kata Mustafa Ahmed, seorang ahli geologi yang turut hadir di Masjid Al Fath.

Rabu kelabu
Hari Rabu kemarin, televisi Mesir menyiarkan adegan dimana terjadi pertempuran antara pendukung Mursi dan pasukan pemerintah. Beberapa laporan wartawan di lapangan menyebutkan, saat pertempuran pecah pertama kali, pendukung Mursi banyak yang tewas akibat mereka tidak mengenakan satupun senjata sebagai aksi untuk mempertahankan diri mereka.

Pemerintah melalui militer menggunakan aksi bersenjata guna mengusir demonstran pendukung Mursi. Setidaknya ada sekitar 600 orang tewas akibat tindakan tersebut. Dalam aksinya pemerintah menggunakan buldoser, gas air mata, peluru tajam dalam melancarkan aksinya.

Namun, setelah kejadian tersebut, pada malam harinya, banyak pendukung Mursi yang sudah dilengkapi oleh senjata dan melakukan serangan balasan atas tindakan yang telah dilakukan oleh pemerintah dan pendukung kudeta yang kebanyakan terdiri dari anggota genk yang tidak menyukai Mursi.

Reuters melaporkan sejumlah pertempuran terjadi antara pasukan bersenjata dan demonstran bersenjata di kota tersebut. Bedasarkan data dari Reuters setidaknya ada 67 pasukan pemerintah tewas akibat serangan tersebut.

Sedangkan bedasarkan laporan dari Associated Press, pertempuran yang terjadi pada Jum'at kemarin, sedikitnya menewaskan 8 pasukan pemerintah.

Pemerintah sebut teroris
Tak lama setelah aksi bersenjata yang dilakukan kepada demonstran tak bersenjata, Kementrian Dalam Negeri Mesir menyatakan akan memerintahkan aparat keamanan untuk menembak mati siapa saja yang mencoba menduduki fasilitas pemerintah.

Senada dengannya, juru bicara Kementrian Pertahanan Mesir menyatakan akan melakukan tindakan apapun untuk membubarkan para demonstran.

"Saat berhadapan dengan teroris, kami tidak akan memikirkan tentang hak asasi manusia," kata Ahmed Ali kepada The Wall Street Journal - KabarJakarta.com.


Diterbitkan Oleh : Lebihunik.com

ARTIKEL TERKAIT